Menjadikan Jogja Lebih Istimewa Dengan Fair Trade
“Menjadikan Jogja Lebih Istimewa dengan Fair Trade” menjadi tema pilihan Bincang Sukses Bisnis edisi minggu ke-4 Bulan Januari 2011 kerja sama Klinik Konsultasi Bisnis (KKB) DIY dengan Radio Unisi. Tema ini diusung dalam upaya mendukung campaign Klinik Konsultasi Bisnis (KKB) DIY “Menuju Jogja 2020 Sebagai Kota Fair Trade”. Tapi mungkinkah…? Pertanyaan ini menjadi bahasan pembuka dalam diskusi ini. Fathonah Syaifuddin, Sekretaris Klinik Konsultasi Bisnis (KKB) DIY yang saat itu menjadi narasumber menjawab dengan sangat yakin, “Sangat mungkin Mba. Karena Jogja memiliki bekal yang lebih dari cukup untuk menuju ke sana.”
Ona, begitu panggilan akrabnya menambahkan, dengan local wisdom yang dimiliki Yogyakarta hal itu bukan merupakan impian yang utopis. Local wisdom ini adalah modal yang sangat luar biasa. Ketika Bulan khairunnisa, penyiar yang bertugas saat itu mencecar dengan pertanyaan local wisdom yang seperti apa, Ona menjawabnya dengan menyanyikan sebuah lagu.
“Jogja, Jogja. Memang istimewa. Istimewa negerinya, istimewa orangnya…”
“Nah, apa yang terceritakan di lagu ini bisa mewakili jawaban saya Mba. Karena terdeskripsikan jelas di sana nilai-nilai yang menjadi pegangan orang-orang Jogja. Satu yang menarik adalah sense of belonging terhadap Jogja tidak hanya dimiliki oleh penduduk Jogja saja, tapi juga oleh para pendatang. Dan ini sangat menguntungkan untuk Jogja. Karena semua bisa menjadi corong yang baik untuk menceritakan Jogja”.
Terus apa hubungannya dengan Fair Trade. Dan kenapa Jogja. Apa untungnya untuk Jogja. Itu adalah pertanyaan lanjutan dari penyiar cantik Unisi ini.
“Kita coba deskripsikan dulu Fair Trade itu seperti apa. Fair Trade adalah perdagangan yang berkeadilan. Adil untuk siapa. Adil untuk produsennya, untuk organisasi/pedagang perantaranya, juga untuk konsumennya. Produsennya memproduksi barang bukan hanya sekedar memproduksi. Tapi ada nilai-nilai etik yang melandasi dalam proses produksinya. Membuat barang yang berkualitas, tidak membahayakan konsumennya, dalam proses produksi tidak melanggar hak-hak manusia yang bekerja, memberikan upah yang adil dalam konteks lokal, juga tidak melanggar aturan yang berlaku.”
“Organisasi/pedagang perantaranya mengetahui berapa ongkos produksi dan margin keuntungan yang diharapkan produsen untuk memenuh hidup layak, relasi dengan produsen baik, berkelanjutan, memberikan uang muka yang cukup sehingga produsen tidak perlu berutang dll.”
“Konsumen, ketika membeli barang diharapkan bukan hanya asal membeli barang. Tapi ada meaning saat mereka membeli barang. “Oh, produk ini dibuat oleh pengrajin dengan sepenuh hati. Ketika aku membeli produk mereka, aku memberi kesempatan lebih kepada mereka untuk berkembang”. Jadi ada nilai-nilai yang melandasi. Tapi di sisi lain mereka juga mendapat kepastian bahwa barang yang mereka beli adalah barang yang berkualitas, ramah lingkungan, dan diproduksi dengan etis. “
“Jadi sebenarnya lebih ke keseimbangan antara hak dan kewajiban masing-masing fihak. Jika seperti itu, semua akan senang. Semua akan nyaman. Saat produsen memproduksi barang, organisasi/pedagang perantara menjual barang, dan konsumen mendapat dan menikmati barangnya, semua mendapatkan keuntungan, semua mendapatkan kepuasan. Dan kepuasannya dari hati.”
“Nah, dari sekian nilai-nilai yang ada di Fair Trade, kami melihat bahwa ada banyak kecocokan antara nilai-nilai Fair Trade dengan local wisdom Jogja. Dari sisi produk, proses produksi, interaksi, sebenarnya sudah mendukung. Cuma memang harus ada upaya untuk memperjelas batasan-batasannya. Karena bagaimanapun ada rule of the game yang harus dipatuhi. Dan tentu saja semua itu perlu proses untuk bisa me”match’kan”.
“Kenapa Jogja. Karena Jogja memiliki potensi untuk dibawa ke sana. Jogja dengan keistimewaannya, baik daerahnya maupun orangnya adalah potensi. Local wisdom, produk, produsen, bahkan potensi-potensi lain seperti wisata sangat potensial untuk menjadi daya dukung. Selain itu, gerakan Fair Trade di Jogja sudah dilakukan sejak beberapa waktu lampau. Ada beberapa organisasi yang mengusung sekian waktu gerakan ini. Klinik Konsultasi Bisnis (KKB) DIY yang bergerak di sektor kerajinan dan pertanian organik, APIKRI di sektor kerajinan, CD Bethesda yang juga bergerak di sektor kerajinan, juga SAHANI yang bergerak di pertanian organik. Artinya, kita tidak berangkat dari titik nol. Saya kira ini adalah kesiapan yang lebih dibanding kota-kota lain di Indonesia”.
Apa untungnya untuk Jogja. Selain perdagangan yang lebih adil yang manfaatnya bisa dirasakan secara langsung oleh UMKM Jogja, Jogja bisa menjadi wilayah yang memiliki ciri pembeda dibanding wilayah lain. Dengan ciri pembeda inilah Jogja akan lebih mudah dikenal di dunia. Jika ini terjadi, banyak sektor yang akan ikut merasakan manfaatnya. Dari sisi bisnis, Jogja akan menjadi wilayah yang lebih baik dan lebih menarik dari sisi bisnis. Ini tentu saja akan menarik investor untuk menanam modal di Jogja. Sektor pariwisata juga bisa memanfaatkan peluang ini untuk memperluas segmen pasar. Semuanya tergantung bagaimana kita meng-create sektor-sektor terkait untuk bersinergi. Jadi nanti siapapun yang akan “mempromosikan” Jogja akan menjadi lebih mudah.
Itu bayangan indahnya. Tapi paling tidak, jika kita sudah menempatkan impian di 2020 mendatang Jogja menjadi Kota Fair Trade, artinya kita akan berupaya menuju ke sana. Itu berarti akan selalu ada progress positif di setiap tahunnya yang diupayakan. Ini memang pekerjaan besar. Sembilan tahun adalah waktu yang singkat untuk menjalin mutiara-mutiara berserak itu. Ini tugas kita bersama. Bagaimana agar sektor-sektor yang nantinya terlibat bisa disinergikan dan mampu membuat progress positif.
Pertanyaan dari Pendengar :
1. Sebenarnya tertarik dengan konsep ini. Di Jogja bisa mendapatkan di mana untuk produk-produknya.
2. Menurut Mbak apa mungkin Jogja dibuat seperti itu
3. Kalau produk beras apa bisa dibawa ke Fair Trade.
4. Apakah batik bisa dimasukkan dalam produk Fair Trade.
5. Apakah batik termasuk produk unggulan ekspor. Karena produk saya batik.
Jawaban :
Seperti yang saya sampaikan tadi, Jogja masih campaign ya. Tapi sudah ada beberapa lembaga yang bergerak di Fair Trade. Untuk kebutuhan seperti beras organik, gula semut dan minuman tradisional bisa ke Klinik Konsultasi Bisnis (KKB) DIY. Selain itu bisa kami bantu juga untuk kerajinannya. Lembaga lain yang bisa dihubungi adalah APIKRI di sektor kerajinan, CD Bethesda yang juga bergerak di sektor kerajinan, SAHANI yang bergerak di pertanian organik. Lebih lengkap datang saja ke kantor KKB DIY, di Jl Pekapalan 9 Alun-Alun Utara. Atau telp ke 0274-387147.
Jika pertanyaannya mungkin nggak, saya jawab mungkin. Tapi memang perlu diupayakan. Yang terpenting adalah ada yang mau mengupayakan itu tadi. Yang mau menjalin mutiara-mutiara berserak yang ada di Jogja. Nah, KKB DIY untuk setahun ke depan mencoba mengambil peran itu. Karena gaung Fair Trade Town, Fair Trade City, Fair Trade Village, sudah menyebar ke mana-mana. Semoga Jogja bisa menjadi pionir untuk di Indonesia. Sering-sering saja mengingatkan kami, ngitik-itik kami biar kami senantiasa bergerak.
Untuk beras sementara teman-teman di Indonesia masih yang organik. Karena yang lebih sesuai dengan konsep Fair Trade. Sebagaimana kita ketahui, salah satu prinsip di Fair Trade adalah membuat produk yang ramah lingkungan. Dan untuk beras, beras organik adalah jawaban.
Untuk Batik, bisa saja. Karena pada dasarnya Fair Trade dulu berawal dari keinginan banyak fihak yang menginginkan produk-produk tradisional dari negara berkembang bisa masuk ke pasar negara maju dan bersaing sehat di sana. SERVV, salah satu lembaga yang intens di Fair Trade, membuat pernyataan tentang hal ini. “Kami mempromosikan dan mendukung barang-barang kerajinan tradisional yang merefleksikan kultur dimana barang itu dibuat. Dengan menyediakan pasar bagi barang-barang kerajinan ini kami membantu melestraikan ketrampilan dan kearifan tradisional.” Jadi jelaskan. Tapi harapannya teman-teman pengrajin semakin menghindari pewarna sintetis.
Batik untuk Jogja masih masuk dalam 20 produk unggulan ekspor. Meskipun untuk bentuknya bisa macam-macam ya. Jadi tidak melulu dalam bentuk kain. Tapi yang harus diingat kalau dibawa ke luar negeri harus disesuaikan dengan fisik dan kebiasaan mereka. Contohnya, di Jerman orang tidak suka membeli dalam bentuk kain. Karena ongkos jahit di sana mahal. Hal-hal seperti ini harus diperhatikan.
Sebagai penutup, impian Jogja sebagai Fair Trade Town saya kira tak akan menjadi impian utopis asalkan bareng-bareng diupayakan. Batasan 2020 hanya sebagai tonggak waktu untuk kita, agar kita bisa mem-breakdown-kan kerja-kerja kita dalam tataran waktu juga. Saya teringat, salah satu teman pernah dengan suara dalam berkata pada saya, “Dream is a spirit. Something to fight for”. Jadi, mari kita perjuangkan….
(Sumber : Talk Show “Bincang Sukses Bisnis” kerja sama Klinik Konsultasi Bisnis (KKB) DIY dan Unisi Radio, 104.5 FM. Kamis, 27 Januari 2011, jam 09.00-10.00. Penyiar : Bulan Khairunnisa. Narasumber : Fathonah Syaifuddin)


Leave a Reply